Saya suka membicarakan hal-hal mendasar seperti sex. Sebagian masyarakat
masih ada yang menganggap tabu. Padahal tema kelamin merupakan urusan
pokok yang bisa terimplikasi pada urusan lain. Aplikasi virus tersebut
bisa menyebar di dalam rumah tangga dan di luar rumah tangga. Kadang
sampai pada pemicu keretakkan rumah tangga, bahkan ada faktor-faktor
manusiawi yang tidak terkait langsung dengan sex, urusan itupun bisa
membesar karena faktor sex. Banyak kalangan rumah tangga yang
menutup-nutupi, khususnya kaum wanita, namun nurani yang terdalam ada
faktor yang terimplikasi langsung karena faktor kelamin ini. Mungkin adat di dalam rumah tangga tersebut masih menganggap tabu, jijik, kurang etis, dan lain-lain.
Hubungan
suami istri yang harmonis terletak pada nilai
keseimbangan dan keadilan. Demikian juga persoalan sex harus dilakukan
dengan adil dan seimbang. Misal masalah orgasme, suami harus mampu
memberikan keseimbangan pada istri. Istri yang belum mencapai orgamse
harus dipacu agar terjadi orgasme bersamaan. Keseimbangan orgasme
bersama-sama merupakan puncak klimaks arena sex. Tanda
orgasme pria bisa diketahui dengan jelas (keluarnya mani dengan tenaga
yang kuat), akan tetapi pencapaian orgamse istri tidak bisa diketahui
kedalamannya.
Faktornya
sangat banyak, diantara sifat wanita seprofesional apapun posisi
sosialnya, faktor gender tetap ada. Rasa malu, emosi, dan penguasaan
logika sering mudah terseret lemah karena dominasi rasa malu dan
perasaan emosinya. Sehingga mengetahui tanda-tanda orgasme kaum
wanitapun sulit teridentifikasi.
Akan tetapi mengutip dalam Kitab Quurrotul ‘Uyun, tanda-tanda kaum wanita mencapai orgasme bisa diketahui dari 4 hal;
a. Keluar keringat dingin pada kening atau dahinya
b. Tubuhnya melekat kuat pada tubuh suami
c. Tubuhnya gemetar, dan inginnya mencari tahanan yang lebih kuat
d. Setelah mencapai orgasme biasanya tulang rusuknya melemah dan malu memandang wajah suaminya sendiri
Jika
arena sexologis rumah tangga ini sudah ditemukan pada tubuh dan wajah
istrinya, hal itu menjadi petanda bahwa istri sudah mencapai orgasme.
Istri yang sering mencapai orgasme atau orgasme bersamaan dengan suami,
maka penyerahan hidup terhadap kaum lelaki akan dilakukan dengan
sepenuh-penuhnya, dan tidak bisa dipisahkan lagi. Istri tidak akan melakukan nuzuz kepada sang pujaan hati.
Sulit retak. Tidak logis, tapi nyata !
Faktor
psikologis ini bisa sangat berbahaya jika terjadi di luar rumah tangga.
Wanita yang mencapai analisis sexologis tersebut bisa sulit memisahkan
diri dengan partnernya. Penyerahan hidup, harta, diri, tubuh, waktu,
mereka rela diserahkan kepada pasangannya sepenuh-penuhnya. Makanya di
jalanan banyak ditemukan pasangan-pasangan “gila,” mereka sudah
mematangkan diri sebelum waktunya matang. Jika tidak
menemukan pasangan atau dikecewakan oleh yang bersangkutan, maka dia
akan mencari pelampisankan “brutal” pada faktor lain dengan cara
terang-terangan, atau melalui manajemen yang terbuka sekali. Lihatlah !
Fenomena sosial anak-anak remaja tanpa malu-malu soal urusan sex,
sesungguhnya bermula dari “rasa” yang sesungguhnya belum waktunya
dirasakan. Ada faktor ketagihan dan kekecewasaan yang sangat mendalam.
Sehingga muncul budaya freesex, pelecehan sex, dan atau pergaulan bebas.
Keluarga yang men-setting
area sex sedemikian apik dalam pencapaian titik klimak bersamaan,
tentunya ada kecantikan (aura) dari dalam. Memang cantik yang bisa
bercahaya dari dalam banyak faktor, intinya terletak pada keharmonisan dan ketenangan hidup. Ada yang ditempuh melalui harta benda dan fasilitas hidup, intlektualitas, profesionalitas, kepuasan sosial, aktualisasi diri, dan banyak lagi. Sementara faktor sexilogis ini gratis, tidak mbayar, dan setiap potensi keluarga bisa melakukan dengan baik dan bijaksana.


0 comments:
Post a Comment